Sekali lagi Ceira menuliskan perjalanan Ceira dengan handphone. Amazing! Ever you think to do it before? Never! Pejalanan yang melelahkan bagi Ceira, namun hanya CINTA yang memberi Ceira kekuatan. Kekuatan untuk bertahan dan bersabar dalam setiap perjalanan.
Kali ini Ceira memilih menggunakan kereta api, PT KAI punya. Angkutan andalan rakyat yang masih dibilang lumayan dan nyaman. Dalam tanda kutip yang kelas eksekutif, lumayan yaitu lumayan mahal dan nyaman kalau tidak penuh. Apalagi kelas ekono, wah ga karuan dah! Hehehe..
Setelah hampir 1 tahun Ceira menjadi pelanggan setia kereta, tidak banyak perubahan yang Ceira rasakan. Hanya tampilan luar gerbong kereta saja yang dipoles cat agar tampak baru. Dalamnya? Masih ada tikus, masih ada kecoa, jok masih keras, tapi untungnya AC masih dingin untuk kelas eksekutif. Pelayan yang acuh tak acuh pun masih sering kita jumpai. Parahnya, kalau hujan gerbong kereta bocor dan Ceira duduk tepat dibawah pancuran air. Heh! Sial!
Ceira sempat heran, kenapa PT KAI tidak pernah berupaya untuk berbenah diri. Kalau kita analisis, satu rangkaian KA, katakanlah Jakarta Surabaya, cukup menghasilkan. Misal Jakarta Surabaya ada 6 gerbong, 1 gerbong eksekutif muat 50 orang, 1 orang tiket rata-rata 200ribu, total jendral dalam 1x perjalanan Jakarta Surabaya menghasilkan 60juta rupiah. Balik Surabaya Jakarta 60juta lagi. Jadi 1 hari 1 kereta bisa menghasilkan 120juta, 30 hari menghasilkan 3,6 milyar, 1 tahun 43,2 milyar untuk 1 kereta. Gila! Anehnya, sampai saat ini tidak ada perubahan positif yang Ceira rasakan selama satu tahun jadi pelanggan setia.
Ada apa dibalik semua ini? Ada uang dibalik gerbong. Hehehe.. Kalau boleh jujur, sebenarnya PT KAI bisa saja berbenah diri dengan modal yang cukup. Selama ini selalu saja dana operasional selalu rugi atau bahkan tidak ada yang dijadikan alasan. Padahal, kalau dana yang dihasilkan dapat dikelola dengan baik niscaya PT KAI akan jauh lebih mengagumkan. Mengapa Ceira bisa menulis seperti itu? Dengan mata kepala Ceira sendiri, ternyata telah terjadi korupsi mulai dari level terbawah. Penjaga peron, petugas KA, kondektur, masinis, semua. Kecuali penjaga pintu lintasan KA dan rail tracker. Tiket diperjualbelikan dibawah tangan. Kursi kosong jadi komoditas dagangan. Perbaikan jalur rel jadi andalan penghasilan sampingan. Masih banyak lagi yang mungkin Ceirasha pernah lihat sendiri.
Yah beginilah nasib bangsa koruptor. Segala bidang jadi lahan penunjang kehidupan, tidak pandang halal dan haram. Semua ditelan mentah-mentah hanya untuk kepuasan nafsu dunia. Ceira hanya bisa berharap, semoga tulisan ini dapat menggugah kita, khususnya PT KAI, agar segera berubah. Jika 1 tahun lagi masih seperti ini, mungkin kita tidak lagi dapat menikmati nyamannya berkereta api bersama PT KAI. Semoga PT KAI tetap jaya dan segera berubah. Viva Ceira!